Hafshah Binti Umar (Part 1)

(Ahli Puasa & Shalat Malam; Istri Rasulullah di Surga)

Mari kita lebih dekat lagi untuk mencium aroma wangi sekuntum bunga dari taman keluarga Umar. Semoga Allah merindhainya dan ayahnya. Itulah bunga di mana Allah menyatukan berbagai kemuliaan dan keutamaan yang tak mampu dilukiskan kata-kata pena saya, atau bahkan sekadar menyebutnya saja tak bisa. Karena ayahnya adalah Al-Faruq umat ini. Dia orang besar di balik kesederhanaan…sederhana dalam kekuatan…kuat dalam keadilan dan kasih sayang.

Dia adalah sosok yang dilahirkan bumi Jazirah dan dididik dengan Islam. Dia adalah sosok ahli ibadah dan wara’ yang ibadahnya memancarkan gerakan, kecerdasan, tindakan nyata dan membangun. Dialah guru sekaligus pendidik yang melurukan banyak sekali konsep kehidupan, mengenakan keagungan dan sifat wara’ pada kehidupan melalui akhlak dan perilaku. Dialah pemimpin orang-orang bertaqwa. Dialah sosok yang memberikan keteladanan nan tiada pernah lapuk kepada seluruh umat manusia…teladan yang tercermin pada sosok lelaki tua dimana dunia dengan seluruh rampasan perang dan harta benda duduk menanti di ambang pintu rumahnya, lalu ia lepaskan semua itu dengan baik. Ia giring semua kesenangan dunia itu untuk rakyat. Segala kebaikan dunia ia persembahkan untuk rakyat, sementara yang menyesatkan ia tangkal dari mereka. Setelah mengibaskan tangan dari segala kesenangan fana ini, ia meneruskan perjalanan dengan berlari kecil pada siang hari nan terik menyengat, di belakang unta sedekah yang dikhawatirkan tak terurus, atau membungkuk di hadapan tungku untuk memasak makanan untuk seorang wanita asing yang hampir melahirkan, atau untuk anak-anak yang menangis kelaparan di tengah kegelapan malam.

Dialah sosok yang beberapa kali Al-Quran turun selaras dengan pandangan dan tutur katanya. Dialah sosok yang keislamannya merupakan penaklukan, hijrahnya merupakan kemenangan, dan kepemimpinannya merupakan keadilan.

Dialah Al-Faruq umat ini, Umar bin Al-Khattab.

Pamannya bernama Zaid bin Khattab yang hadir dalam perang Badar dan berbagai perang lainnya, gugur sebagai syahid pada perang Yamamah. Beliau disebut-sebut Umar sebagai berikut, “Ia mendahuluiku meraih dua kebaikan; ia lebih dulu masuk Islam dan mati syahid sebelumku.” Umar juga menuturkan tentangnya, “Setiap kali angin sepoi dari timur berhembus, aku selalu teringat pada Zaid bin Al-Khattab.”

Ibunya bernama Zainab binti Mazh’un, saudari seorang sahabat mulia, Utsman bin Mazh’un yang ketika meninggal dunia, Rasulullah datang dan menciumnya dengan air mata berderai menetes di pipi Utsman. Dialah orang pertama yang dimakamkan di Baqi. Dialah yang kala putri Rasulullah meninggal, beliau bersabda pada sang putri, “Susullah pendahulu kami yang baik; Utsman bin Mazh’un.

Bibinya adalah Fatimah binti Al-Khattab, termasuk orang-orang yang lebih dulu masuk Islam bersama sang suami, Sa’id bin Zaid; satu diantara sepuluh sahabat yang dijamin surga. Saudaranya adalah Abdullah bin Umar, sang ahli ibadah, zuhud, bertaqwa, wara’, dan ahlul ilmi, yang disebut-sebut Rasulullah “Sungguh, Abdullah adalah lelaki shaleh.” Ibunda kita Aisyah menuturkan tentang Ibnu Umar, “Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih berpegang pada urusan yang pertama melebihi Ibnu Umar.” Adakah yang mampu mengungkapkan keagungan semua keutamaan dan kemuliaan itu dengan pena atau tutur katanya?!

Pertumbuhan yang Diberkahi

Setelah mukaddimah tentang keluarga Umar, tempat ibunda kita Hafshah tumbuh berkembang, kita bisa membayangkan bagaimana ia tumbuh penuh berkah dan hidup di bawah naungan lingkungan yang jarang kita temukan padanannya. Hafshah lahir ketika kaum Quraisy merenovasi bangunan Ka’bah, tepatnya lima tahun sebelum kenabian. Saat itu, Nabi memutuskan pertikaian di antara mereka terkait persoalan peletakan Hajar Aswad pada tempatnya. Nabi memutuskan pertikaian ini dengan hikmah, pendapat nan adil, dan pandangan nan tajam.

Ia menyukai ilmu dan adab, belajar baca-tulis dari Syifa binti Abdullah Al-Qurasyiyah Al-Adawiyah, dan terus menuntut ilmu hingga menjadi salah seorang wanita Quraisy paling fasih.

“Keislaman Umar adalah sebuah kemenangan”

Kala mentari Islam terbit menyinari bumi Jazirah, Umar masih menganut kesyirikan. Rasulullah berharap Umar masuk Islam agar menjadi duri di punggung kaum musyrikin. Beliau berdoa, “Ya Allah! Muliakanlah Islam dengan salah satu diantara dua orang yang lebih engkau cintai; Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khattab.” Perawi berkata, ‘Dan yang lebih (Allah) cintai diantara keduanya adalah Umar.’

Keislaman Umar menjadi faktor besar kemenangan dan kekuatan Islam, karena ia memiliki kekuatan dan keberanian istimewa, serta ia tidak takut dengan celaan siapapun. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Keislaman Umar merupakan penaklukan, hijrahnya merupakan kemenangan, dan kepemimpinannya merupakan kasih sayang. Sebelumnya, kami tidak bisa shalat di Ka’bah hingga Umar masuk Islam. Saat masuk Islam, Umar berkelahi melawan kaum Quraisy hingga shalat di dekat Ka’bah, dan kami pun shalat bersamanya.”

Demikianlah Umar memasuki Ka’bah yang diberkahi itu, sehingga menjadi benteng kokoh yang membela Islam dan kaum muslimin. Seperti itulah keluarga Umar nan penuh berkah itu berada di bawah naungan agama agung dan Nabi mulia. Mereka meminum dari sumber yang jernih, mempelajari tingkah laku, akhlak, ibadah, perilaku, dan kasih sayang Nabi.

Menikah dengan Khunais

Setelah matang sebagai seorang wanita, salah satu diantara mereka yang lebih dulu masuk Islam, Khunais bin Hudzafah (saudara Abdullah bin Hudzafah) datang meminangnya. Khunais menikah dan hidup bersamanya dalam kebahagiaan meluap di bawah naungan iman dan ketaatan. Khunais sudah masuk Islam sebelum Nabi memasuki rumah Arqam bin Abi Arqam. Ia masuk Islam di tangan Abu Bakar Ash-Shidiq.

“Maka segeralah kembali menaati Allah”

Eskalasi gangguan kaum musyrikin terhadap para sahabat Rasulullah kian meningkat, Nabi kemudian mengisyaratkan para sahabat untuk berhijrah ke bumi Habasyah. Khunais termasuk diantara mereka yang berhijrah ke Habasyah. Setelah itu, kembali lagi ke Mekah. Mengetahui gangguan dan penyiksaan kian menjadi-jadi seiring perjalanan hari demi hari, Khunais mengajak serta istrinya, Hafshah berhijrah ke Yatsrib (Madinah) setelah Rasulullah mengizinkan para sahabat berhijrah ke Madinah. Di sana, pasangan suami istri ini tinggal di tempat kaum Anshar. Kebahagiaan mereka berdua semakin lengkap kala Nabi juga berhijrah ke Madinah. Ketika beliau memasuki kota itu, segalanya menjadi terang. Betapa indahnya hidup bersama Rasulullah.

Perpisahan pilu

Pada perang Badar di mana Allah menakdirkan kemenangan dan kejayaan bagi kaum muslimin, Khunais tergolong salah satu ksatria dalam peperangan tersebut. ia sangat mendambakan mati syahid dari lubuk hati. Saat turun ke kancah perang, ia mendapat banyak luka di sekujur tubuh. Namun demikian, ia tetap berperang agar kalimat Allah jua yang tinggi dan kalimat orang-orang kafir rendah. sesuai perang Badar, Khunais dan kalimat orang-orang kafir rendah. Seusai perang Badar, Khunais pulang ke Madinah dengan membawa luka.

Seorang sahabat mulia yang mengorbankan diri karena Allah ini akhirnya meninggal dunia dan meraih keutamaan agung. Sebab, jenazahnya dishalatkan Rasulullah dan beliau makamkan di Baqi, tepat di samping makam seorang sahabat mulia; Utsman bin Mazh’un.

Begitulah perpisahan pilu ini terjadi, sekaligus membuat Hafshah menjanda padahal usianya masih tergolong belia. Hafshah dirundung kesedihan mendalam hingga nyaris saja mengoyak hatinya. Namun ia juga berada di puncak kebahagiaan karena mendiang suami mati secara terhormat. Luka yang ia dapatkan di jalan Allah akan menjadi saksi baginya.

Sumber : Biografi 35 Shahabiyah Nabi oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s