Hafshah Binti Umar (Part 2)

Menjadi Ummul Mukminin

Umar sedih karena putrinya yang masih berusia 18 tahun itu harus menjanda. Sedih melihat status janda putrinya menyerang masa mudanya, melemahkan gairahnya, dan mencekik masa-masa bahagianya. Umar mulai murung setiap kali masuk rumah melihat putrinya dirundung kesedihan. Setelah berpikir panjang, Umar bermaksud untuk mencarikan suami lagi untuknya agar merasa senang berdampingan dengan si suami.

Sang ayah, Umar menawarkannya kepada Abu Bakar, namun Abu Bakar tidak memberikan tanggapan apa pun. Setelah itu, ia tawarkan kepada Utsman. Utsman berkata, “Aku berpikir untuk tidak menikah dulu untuk saat ini.” Umar marah pada keduanya lalu mengadu kepada Nabi. Beliau berkata, “Hafshah akan dinikahi seseorang yang lebih baik dari Utsman, dan Utsman akan menikahi orang yang lebih baik dari Hafshah.” Setelah itu Nabi meminang Hafshah, lalu Umar menikahkannya dengan beliau. Setelah itu, Rasulullah menikahkan Utsman bin Affan dengan putri beliau, Ummu Kultsum, sepeninggal saudarinya Ruqayyah.

Setelah Umar menikahkan putrinya, Abu Bakar datang menemuinya lalu menyampaikan alasan kepadanya. Abu Bakar berkata, “Jangan marah padaku, karena Rasulullah sebelumnya pernah menyebut-nyebut Hafshah. Aku tidak akan membeberkan rahasia beliau. Andai beliau membiarkannya, tentu aku nikahi dia.”

Rasulullah menikahi Hafshah pada tahun 3 Hijriah sebelum perang Uhud, dan memberinya mahar sebesar 400 dirham. Pernikahan ini merupakan kemuliaan, karunia, sekaligus kebaikan yang diberikan kepada Hafshah dan ayahnya. Semoga Allah meridhai keduanya.

Kedudukan Hafshah Nan Tinggi

Hafshah menempati kedudukan tinggi di hati Nabi, bahkan kedudukannya di mata para istri beliau juga tinggi. Sampai-sampai ibunda kita Aisyah mengatakan tentangnya, “Diantara istri-istri Nabi, dialah yang menyamai kedudukanku.”

Hanya saja, kehidupan istri-istri beliau tidak terlepas dari perasaan-perasaan manusiawi yang ditimbulkan oleh cemburu, persaingan, atau semacamnya. Untuk itu, Nabi mengatasi semua persoalan dengan pendidikan ilahi, baik persoalan dengan istri-istri beliau dalam lingkup rumah tangga, para sahabat, ataupun umat secara keseluruhan. Beliau menuntut mereka semua menuju jalan yang benar.

Dengan adil, mengikis rasa cemburu

Berikut sebuah kejadian yang menjelaskan kepada kita bagaimana rasa cemburu kadang muncul di antara istri-istri Rasulullah, dan bagaimana beliau mengatasi masalah-masalah seperti ini dengan bijak, pemikiran matang dan kasih sayang. Disebutkan dalam kitab Shahihain; dari hadits Aisyah, ia berkata, “Suatu ketika Nabi meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy dan beliau tinggal di sana untuk sementara waktu. Aku dan Hafshah kemudian sepakat, siapa diantara kami yang memasuki kediaman Zainab, harus bertanya kepada beliau, ‘Apa engkau memakan getah manis? Aku mencium bau getah manis.’ “Tidak, tapi aku habis minum madu di tempat Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan minum madu lagi, dan aku bersumpah agar kau tidak memberitahukan hal itu pada siapapun,” jawab beliau.

An-Nasa’i dan Hakim meriwayatkan dari hadits Anas, bahwa Rasulullah memiliki budak wanita yang beliau gauli. Aisyah dan Hafshah terus mendesak beliau hingga beliau mengharamkan budak wanita tersebut untuk beliau. Allah kemudian menurunkan ayat ini, “Hai nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah halalkan bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu?” (At-Tahrim : 1)

Berlomba menggapai ridha Rasulullah

Hafshah melalui hari-hari indah sepanjang hidup bersama sang Kekasih, karena kian hari ilmu, pemahaman, dan ketaatannya kepada Allah kian meningkat. Bagaimana tidak, sementara ia meminum air dari mata air ilmu nan jernih. Bersama istri-istri Nabi lainnya, ia berlomba menggapai ridha beliau. Ia tidak pernah lelah untuk membahagiakan dan menyenangkan beliau. Setiap saat, ia selalu berada di dekat Nabi, sehingga ia semakin dekat dan lebih dekat dengan Allah. Melalui Rasulullah, ia mempelajari segala amal ketaatan yang mendekatkan diri kepada Allah. Demikianlah kehidupan suami-istri yang membuat kebahagiaan berkibar di atas rumah tangga.

Ia istri Nabi di surga

Suatu hari, Nabi menceraikan Hafshah hingga hatinya remuk-redam dan segala sesuatu serasa gelap di hadapan matanya. Ia tidak percaya telah diceraikan suami, kekasih, sekaligus nabinya. Tanpa diduga, Al-Amin Jibril turun membawa perintah dari Allah, membelah tujuh lapis langit untuk memerintahkan Rasulullah merujuk dan mengembalikan Hafshah kembali.

Dalam hadits ini disebutkan; Nabi menjatuhkan talak satu kepada Hafshah, setelah itu beliau rujuk kembali atas perintah Jibril. Jibril berkata, “Dia itu ahli puasa, shalat malam, dan dia adalah istrimu di surga. Sungguh sebuah keutamaan yang membuat seluruh keutamaan merasa malu di hadapannya. Inilah kedudukan ibunda Hafshah di sisi Allah.

Ilmu dan pemahamannya

Ibunda kita Hafshah dikenal dengan ilmu, pemahaman, dan ketakwaannya. Sifat-sifat ini membuat Hafshah menempati posisi terhormat di mata Rasulullah. Hafshah tetap menjaga kedudukan ini pada masa khilafah rasyidin, khususnya pada masa kekhilafahan ayahnya. Umar seringkali merujuk pada pandangan dan hukum-hukum fikih yang ia sampaikan.

Ummul mukminin Hafshah menjadi rujukan bagi sebagian besar sahabat di bidang hadits Nabawi dan Ibadah. Saudaranya, Abdullah bin Umar yang dikenal gigih meneladani Rasulullah mempelajari apa saja yang dilihat Hafshah di rumah Rasulullah. Lebih dari itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq memilih Ummul Mukminin Hafshah diantara istri-istri Nabi untuk menjaga Al-Quran yang ia kumpulkan. Abu Bakar memilih Hafshah untuk tugas ini karena sifat-sifat yang menyatu dalam dirinya, seperti bertakwa, berilmu dan ahli puasa. Apalagi ia ahli baca tulis pada masanya. Saat itu jarang kaum lelaki yang bisa baca tulis, apalagi kaum wanita.

Itulah kenapa Ummul Mukminin Hafshah merupakan murid pandai yang menyalurkan banyak sekali hukum-hukum nabawi kepada kaum muslimin.

Kematian sang kekasih

Hafshah tetap menjadi teladan bagi seorang istri setia dan tulus yang tidak pernah lelah untuk membahagiakan sang suami. Kebahagiaan selalu menaungi rumah tangga penuh berkah ini, hingga tibalah hari yang membuat seluruh alam ini gelap, yakni tatkala Rasulullah meninggal dunia. Hati Hafshah merasakan kesedihan yang mendalam karena kematian Rasulullah, sosok suami, kekasih, dan nabinya. Sepeninggal Rasulullah, Hafshah tetap rajin beribadah kepada Allah, hingga siapa pun mengakui keutamaannya di bidang shalat dan ibadah.

Al-Faruq menjabat sebagai khalifah

Kala Al-Faruq memimpin kaum muslimin, Hafshsh tetap tidak berubah. Ia tetap menjalani kehidupan zuhud dan sengsara, semakin hari semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak puasa dan shalat malam. Sebab, ia tahu pasti bahwa kekuasaan ayahnya tidak akan membawa manfaat baginya. Yang akan membawa manfaat baginya tidak lain adalah amal shaleh yang akan ia bawa menghadap Allah.

Pembunuhan Al-Faruq

Hafshah menyaksikan kemuliaan, prestasi, zuhud, wara’, keadilan, dan serangkaian penaklukan sang ayah. Hingga tibalah hari dimana Al-Faruq terbunuh dengan sejumlah tikaman pengkhianat melalui sangkur Abu Lu’lu’ah Al-Majusi. Pada detik-detik terakhir usia yang penuh dengan perjuangan dan pengorbanan, Al-Faruq merebahkan tubuh. Putrinya, Hafshah masuk menjenguk. Ia menangis saat ayahnya meninggal dunia. Setelah itu, ia keluar dengan mengharap pahala di sisi Allah atas kematian ayahnya.

Abdullah bin Abbas suatu ketika ditanya, “Umar menurutmu seperti apa?’ Ia menjawab, ‘semoga Allah merahmati Abu Hafsh. Demi Allah, ia adalah sekutu Islam, tempat anak-anak yatim bernaung, tempat iman, puncak kebaikan, tempat berkumpul orang-orang lemah tak berdaya, dan benteng pertahanan para khalifah. Ia benar-benar sebuah benteng, penolong rakyat, menunaikan hak Allah dengan sabar dan mengharap pahala hingga memenangkan agama. Ia menaklukkan berbagai negeri, nama Allah disebut-sebut di berbagai bukit dan lembah. Ia tunduk kepada Allah baik saat senang maupun susah, pandai bersyukur kepadaNya setiap saat, dan Allah menimpakan penyesalan hingga hari kiamat bagi siapa pun yang benci padanya’.”

Mengemban amanat Al-Quran di pundak

Ibunda kita, Hafshah, mengemban amanat Al-Quran di pundak. Dialah yang dipilih Abu Bakar untuk menyimpan Al-Quran yang dikumpulkan Zaid bin Tsabit. Lembaran-lembaran Al-Quran yang dikumpulkan tetap disimpan di tempatnya hingga masa Utsman. Setelah itu, semua disatukan dalam satu mushaf.

Sumber : Biografi 35 Shahabiyah Nabi oleh Syaikh Mahmud Al-Mishri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s