Perang Khaibar (Part 1)

A. Tarikh dan Sebab-Sebabnya

Ibnu Ishaq menyebutkan bahwa perang tersebut terjadi pada bulan Muharram tahun ketujuh Hijriah. Al-Waqidi menyebutkan bahwasanya ia terjadi pada bulan Shafar atau Rabi’ul Awal tahun ketujuh Hijriyah, sekembalinya dari Perang Hudaibiyah. Sementara Ibnu Sa’ad berpendapat bahwa perang ini terjadi pada bulan Jumadil Ula tahun ketujuh Hijriyah. Sedangkan Imam Az-Zuhri dan Imam Malik berpendapat bahwa ia terjadi pada bulan Muharram tahun keenam Hijriyah. Ibnu Hajar telah merajihkan pendapat Ibnu Ishaq atas pendapat Al-Waqidi.

Kaum Yahudi Khaibar belum memperlihatkan permusuhannya kepada kaum muslimin sampai ketika para pemuka Bani Nadhir tinggal di tengah-tengah mereka. Mereka, pemuka Bani Nadhir itu sakit hati karena diusir dari kampung halaman mereka. Ternyata pengusiran tersebut tidaklah cukup untuk menghancurkan kekuatan mereka. Sebab, mereka meninggalkan Madinah dengan membawa kaum wanita, anak-anak, dan harta benda mereka. Sementara di belakang mereka ada para biduanita yang menabuh rebana dan meniup seruling dengan penuh kesombongan, kebanggaan, dan keberanian yang biasa ditunjukkan oleh sebagian orang di zaman mereka.

Diantara para pemimpin terkemuka Bani Nadhir yang tinggal di Khaibar adalah Sallam bin Abil Huqaiq, Kinanah bin Abil Huqaiq dan Huyai bin Akhthab. Ketika mereka menetap disitu, penduduknya langsung memberikan ketaatan kepada mereka.

Kepemimpinan mereka atas Yahudi Khaibar sudah cukup untuk menarik mereka untuk mengadakan perlawanan, penentangan, pembalasan terhadap kaum muslimin. Kedengkian yang terpendam dan keinginan yang sangat kuat untuk kembali ke perkampungan mereka di Madinah itulah yang mendorong mereka. Kita lihat, awal pergerakan kekuatan yang terjadi dalam Perang Ahzab adalah milik Yahudi Khaibar di bawah pimpinan para pemuka Bani Nadhir. Pergerakan tersebut memiliki peran yang sangat besar dalam memobilisasi kaum Quraisy serta orang-orang Arab badui melawan kaum muslimin. Dalam hal itu mereka juga telah mendayagunakan seluruh harta benda mereka. Dan langkah mereka selanjutnya adalah upaya meyakinkan Bani Quraizhah agar mau melakukan pengkhianatan dan bekerjasama dengan pasukan Ahzab. Mereka bahkan telah membelanjakan seluruh harta benda mereka dan memanfaatkan hubungan mereka dengan Yahudi Bani Quraizhah demi membantu pasukan Ahzab serta menikam kaum muslimin dari belakang. Karena itulah, Khaibar menjadi sumber bahaya besar bagi kaum muslimin dan negara mereka yang baru berkembang.

Seusai Perjanjian Hudaibiyah, kaum muslimin segera bekerja keras membersihkan bahaya kaum Yahudi Khaibar yang kini menjadi ancaman bagi keamanan kaum muslimin. Sebab, surat Al-Fath yang turun setelah Perjanjian Hudaibiyah mencakup janji Ilahi; penaklukan Khaibar dan perampasan hartanya sebagai ghanimah.

B. Perjalanan Pasukan Islam Menuju Khaibar

Pasukan Islam berjalan menuju Khaibar dengan spirit keimanan yang tinggi. Meskipun mereka mengetahui kokohnya benteng Khaibar, kekuatan para prajuritnya, dan perlengkapan militernya. Mereka berjalan sembari mengumandangkan tahlil dan takbir dengan suara tinggi sehingga Nabi meminta mereka agar berdoa dengan suara pelan, beliau mengatakan, “Wahai manusia, pelankan suara kalian! Sesungguhnya kalian tidak berdoa kepada Zat yang tuli dan jauh, tetapi kalian berdoa kepada Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Rasulullah berjalan bersama tentaranya pada malam hari. Salamah bin Al-Akwa meriwayatkan, “Kami mengadakan perjalanan malam bersama Nabi menuju Khaibar. Sementara itu Amir bin Al-Akwa menghalau seekor unta sambil melantunkan syair :

Ya Allah, kalau bukan karena engkau, tentu kami tidak akan mendapat petunjuk

Kami tidak akan bersedekah dan juga tidak akan shalat

Berilah ampunan sebagai tebusan untukMu atas apa yang telah kami lalaikan

Teguhkan kaki-kaki kami bila bertemu musuh

Berikanlah ketenangan atas kami

Sesungguhnya jika diserukan kepada kami, niscaya kami datang

Namun dengan seruan itu mereka datang kepada kami

Kemudian Rasulullah bertanya, Siapakah orang yang menghalau unta sambil bersyair itu? Para sahabat menjawab, Amir bin Al-Akwa. Beliau bersabda, Semoga Allah merahmatinya. Lalu ada seorang laki-laki dari rombongan itu (yaitu Umar bin Khattab) yang berkata, Sudah semestinya wahai Nabiyullah. (Bagaimana jadinya) sekiranya engkau tidak menyenangkan kami dengannya.

Ketika pasukan Islam telah sampai di Shahba – yang merupakan wilayah Khaibar paling bawah – Rasulullah melaksanakan shalat Ashar. Kemudian beliau meminta bekal makanan, namun tidak didapati kecuali hanya tepung. Maka, beliau pun memerintahkan agar tepung itu dibuat bubur. Beliau memakan bubur itu bersama para sahabat. Setelah itu beliau bangkit untuk melaksanakan shalat Maghrib. Beliau berkumur-kumur, lalu shlat bersama para sahabat tanpa berwudhu lagi.

Sebelumnya Rasulullah telah mengutus Abbad bin Bisyir dalam satuan pasukan pengintai untuk mengumpulkan informasi tentang pasukan musuh dan mencari tahu apakah di sana ada penyergap. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan mata-mata Yahudi yang berasal dari Bani Asyja. Abbad bin Bisyir berkata, “Siapa kamu?” Orang itu menjawab, “Aku ingin mencari untaku yang hilang dan sekarang aku sedang menelusuri jejaknya.” Abbad berkata, “Apakah engkau tahu tentang Khaibar?” Orang itu menjawab, “Pengetahuanku tentangnya sangat baru. Dalam hal apa yang ingin engkau tanyakan tentangnya?” Abbad menjawab, “Tentang kaum Yahudi.” Orang itu menjawab, “Ya. Kinanah bin Abil Huqaiq dan Haudzah bin Qais telah berjalan bersama sekutu-sekutu mereka dari Ghathafan. Mereka memobilisasi Bani Ghathafan dan memberikan kepada mereka buah-buahan Khaibar setiap tahunnya. Mereka kini telah datang dengan diperkuat kuda-kuda dan persenjataan di bawah pimpinan Utbah bin Badr. Mereka masuk bersama kaum Yahudi di benteng-benteng mereka dengan jumlah sepuluh ribu tentara. Sungguh, mereka adalah pemilik benteng-benteng yang tak terkalahkan serta persenjataan dan bahan makanan yang sangat banyak. Andaikata mereka dikepung untuk beberapa tahun tentulah persediaan makanan mereka itu mencukupi bagi mereka. Tersedia pula air yang dapat mereka minum di dalam benteng tersebut. aku tidak melihat ada orang yang memiliki kemampuan untuk menghadapi mereka.”

Mendengar uraian itu Abbad mengangkat cambuknya dan memukul orang itu beberapa kali seraya menghardik, “Kamu ini tidak lain adalah mata-mata mereka. Benarkan aku! Jika tidak, kupenggal lehermu.” Orang badui itu berkata, “Kaum Yahudi merasa takut terhadap apa yang telah kalian perbuat terhadap mereka di Yastrib. Kemudian Kinanah berkata kepadaku, Pergilah dengan menghadang jalan, sebab mereka tidak akan mengetahui kedudukanmu. Buatlah mereka menduga-duga tentang kami, lalu mendekatlah kepada mereka layaknya seseorang yang menanyakan sesuatu yang akan menguatkan dugaan tersebut. kemudian sampaikan kepada mereka banyaknya jumlah kami dan juga perbekalan kami, karena mereka pasti bertanya kepadamu. Setelah itu segeralah kembali kepada kami dengan membawa kabar tentang mereka.

Ketika malam tiba, Rasulullah memerintahkan pasukannya untuk tidur di sisi timur Khaibar. Mereka bangun pagi-pagi sekali, lalu mendirkan kemah dan markas mereka di suatu lembah yang bernama Ar-Raji’, yaitu lembah yang terletak antara Khaibar dan Ghathafan. Dengan begitu, mereka dapat memutus bantuan untuk Yahudi Khaibar dari kabilah Ghathafan.

Menjelang pagi harinya, orang-orang Yahudi keluar dengan membawa sekop dan keranjang mereka. Tatkala melihat pasukan kaum muslimin, mereka berteriak, “Demi Allah, Muhammad dan pasukannya telah datang.”

C. Gambaran Jatuhnya Benteng-Benteng Khaibar

Orang-orang Yahudi berlarian ke dalam benteng-benteng mereka dan kemudian dikepung oleh kaum muslimin. Maka, mulailah kaum muslimin membuka benteng-benteng mereka satu demi satu. Benteng pertama mereka yang jatuh adalah benteng Na’im, benteng Sha’ab di wilayah An-Nathah dan benteng Abu Nizar di wilayah Asy-Syiq. Kedua wilayah ini terletak di sebelah timur laut Khaibar. Kemudian benteng Al-Qamush yang sangat kokoh di wilayah Al-Katibah, dan merupakan benteng Ibnu Abil Huqaiq. Selanjutnya mereka berhasil menjatuhkan dua benteng di wilayah Al-Wathih dan As-Salalim.

Kaum muslimin sempat menghadapi perlawanan yang sangat kuat dan sulit ketika membuka sebagian benteng-benteng ini. Diantaranya adalah benteng Na’im yang menyebabkan syahidnya Mahmud bin Maslamah Al-Anshari di bawah benteng tersebut karena dijatuhi sebuah alat penggiling dari atas benteng oleh seseorang yang bernama Marhab. Penaklukan benteng ini memakan waktu selama sepuluh hari. Saat pengepungannya, bendera kaum muslimin dipegang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Namun Allah tidak membukakan benteng tersebut melalui tangannya.

Ketika orang-orang telah merasa payah, Rasulullah bersabda, “Sungguh, esok hari bendera ini akan diserahkan kepada seseorang yang dicintai oleh Allah serta Rasul-Nya, dan diapun mencintai Allah serta RasulNya. Dia tidak akan kembali hingga benteng itu ditaklukkan untuknya.” Mendengar janji Nabi tersebut hati kaum muslimin merasa senang. Ketika shalat Shubuh pada hari ketiga, beliau memanggil Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali membawa bendera itu hingga ia berhasil menaklukkan benteng melalui tangannya.

Ketika Rasulullah memanggil Ali, saat itu dia mengeluhkan rasa sakit pada kedua matanya. Kemudian beliau meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Seketika itu matanya sembuh seakan tidak ada bekas sakit sebelumnya. Rasulullah telah memberikan wasiat kepada Ali agar terlebih dahulu menyeru kaum Yahudi untuk masuk Islam sebelum menyerang mereka. Beliau berpesan kepada Ali, “Sungguh, seandainya Allah memberi hidayah kepada seseorang lewat perantaraan kamu, niscaya hal itu lebih baik buatmu daripada mendapatkan unta merah (harta yang paling baik).

Dan tatkala Ali bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, atas dasar apa aku memerangi manusia?” Beliau menjawab, “Perangilah mereka hingga mereka mau bersaksi bahwa tiada ilah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah melaksanakan hal itu berarti mereka telah mencegahmu untuk menumpahkan darah mereka dan mengambil harta mereka kecuali yang menjadi haknya (Islam) sedangkan hisab (perhitungan) mereka ada di sisi Allah.

Pada saat kaum muslimin mengepung benteng ini, mereka diajak berduel (lawan tanding) oleh pemimpin dan pahlawan Yahudi yang bernama Marhab, yang akhirnya menjadi penyebab kesyahidan Amir bin Al-Akwa’. Kemudian Ali bin Abi Thalib menyerangnya hingga berhasil membunuhnya. Ada pula yang mengatakan ia dibunuh oleh Muhammad bin Maslamah, yang akhirnya memberikan pengaruh negatif pada moralitas kaum Yahudi dan setelah itu mereka kalah.

Telah disebutkan sejumlah riwayat yang mengabarkan bahwa Ali bin Abi Thalib melindungi dirinya dengan sebuah pintu besar yang ada di benteng Na’im setelah seorang Yahudi berhasil menjatuhkan perisai dari tangannya. Keseluruhan riwayat tersebut adalah lemah. Tidak bolehnya bersandar pada riwayat-riwayat tersebut tidak akan menafikan kekuatan dan keberanian Ali bin Abi Thalib. Maka cukuplah baginya apa yang telah diriwayatkan mengenai hal tersebut yang sangat banyak jumlahnya.

Setelah menaklukkan benteng Na’im, kaum muslimin berangkat menuju benteng Ash-Sha’ab bin Mu’adz. Pembawa bendera mereka ialah Al-Hubab bin Al-Mundzir mendapatkan kemenangan dengan kemenangan yang baik, sehingga mereka berhasil menaklukkan benteng tersebut setelah tiga hari. Di dalamnya mereka mendapati banyak makanan dan barang-barang, yaitu pada hari di mana mereka sedang dalam kesempitan karena sedikitnya makanan. Setelah itu mereka menuju ke benteng Qal’ah Az-Zubair – di dalamnya terkumpul orang-orang yang melarikan diri dari benteng Na’im dan benteng Ash-Sha’ab, dan merupakan sisa benteng Yahudi yang belum ditaklukkan. Kaum muslimin mengepung benteng tersebut dan memutus aliran air yang mereka minum sehingga memaksa mereka untuk turun bertempur. Namun setelah tiga hari, mereka berhasil dikalahkan. Dengan itu, maka berakhirlah kendali atas benteng-benteng lain yang ada di wilayah An-Nathah, yang di dalamnya terdapat kaum Yahudi yang paling kuat.

Kemudian kaum muslimin menuju benteng-benteng lainnya d wilayah Asy-Syiq. Kaum muslimin memulainya dengan benteng Ubay dan berhasil menembusnya, sehingga sebagian prajuritnya melarikan diri ke benteng Nizar. Kaum muslimin menuju ke arah mereka, lalu mengepungnya hingga berhasil menaklukkan benteng tersebut. Sisa-sisa penghuni benteng As-Syiq melarikan diri dari benteng mereka dan berkumpul di benteng Al-Qamush yang kokoh, benteng Al-Wathih dan benteng As-Salalim. Kaum muslimin mengepung mereka selama empat belas hari, sampai akhirnya mereka meminta perjanjian damai.

Dengan begitu, jatuhlah seluruh wilayah Khaibar di tangan kaum muslimin. Sementara itu, penduduk Fadak yang berada di wilayah utara Khaibar segera meminta perjanjian damai agar mereka dibebaskan dan tetap dibiarkan hidup. Mereka juga bersedia menyerahkan seluruh harta benda mereka kepada Rasulullah, maka beliau pun menyetujui permintaan mereka. Tanah Fadak ini murni untuk Rasulullah karena dalam penaklukannya beliau tidak mengerahkan seekor kuda pun dan tidak pula seekor unta.

Setelah itu kaum muslimin mengepung Wadil Qura. Ia merupakan sejumlah desa-desa yang jaraknya antara Khaibar dan Taima’ ditempuh dalam waktu beberapa malam. Namun kemudian mereka menyerah sehingga kaum muslimin mendapatkan harta ghanimah yang sangat banyak. Mereka membiarkan tanah dan kebun kurma tetap di tangan Yahudi untuk mereka olah seperti halnya Khaibar. Sementara itu, penduduk Taima’ meminta perjanjian damai seperti halnya perjanjian damai Khaibar dan Wadil Qura.

Dengan begitu, maka seluruh benteng Yahudi berjatuhan di tangan kaum muslimin. Korban kaum Yahudi dalam berbagai pertempuran di Khaibar mencapai sembilan puluh tiga orang, sementara para wanita dan anak-anak menjadi tawanan. Di antara para tawanan wanita itu adalah Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab. Namun kemudian Rasulullah membebaskannya dan menikahinya. Sementara itu, yang syahid dari kalangan kaum muslimin ada dua puluh orang sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq, atau lima belas orang sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Waqidi.

Sumber : Peperangan Rasulullah oleh Dr. Ali Ash-Shallabi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s